Pertanian Sebagai Sektor Menjanjikan Menuju Indonesia Mandiri

Pertanian Sebagai Sektor Menjanjikan Menuju Indonesia Mandiri
Oleh Keisya Tennaya Ristadewayani – Siswa SMA N 1 Yogyakarta
Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Namun mirisnya menjadi seorang petani bukan menjadi pilihan kebanyakan anak-anak ketika ditanya, besok ingin menjadi seperti apa? Petani kerap disandingkan dengan lumpur, kuno, tidak sejahtera, dan dipandang sebelah mata. Oleh sebab itu banyak orangtua yang tidak menginginkan anaknya menjadi petani, termasuk mereka yang bekerja sebagai petani.  Padahal tidak adanya petani sama artinya dengan tidak adanya makanan di bumi. 
Dilain sisi, populasi global meningkat pesat dari 2.773.019.936 jiwa pada 1955 menjadi 7.794.798.739 jiwa pada 2020. Di Indonesia, populasi manusia telah tumbuh dari 241.834.215 jiwa pada 2010 menjadi 273.523.615 jiwa pada 2020 (worldometers, 2020). Asian Development Bank menyebutkan sebanyak 822 juta orang di bumi masih berada dalam keadaan tidak aman pangan. Dari jumlah tersebut sebanyak 517 juta orang berada di kawasan Asia dan Pasifik. Moeldoko menyebutkan hampir 120 ribu hektare lahan beralih fungsi setiap tahunnya (Mahadi T, 2020). 
Selain itu, jumlah petani di Indonesia kerap mengalami penurunan. Hal tersebut dapat diantisipasi dengan mengerahkan dan mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (Setiawan M, 2019). Sejalan dengan itu kementerian pertanian telah mengalokasikan ribuan alsintan yang disebar ke 33 provinsi (Shofihara I, 2020). Dengan begitu sektor pertanian Indonesia sudah mulai menyambut era revolusi industri keempat (forth industrial revolution). Era ini dibangun di atas fondasi revolusi industri ke tiga yang dipadukan dengan teknologi yang mengaburkan sosok fisik, digital, dan biologis. Era ini juga menghadirkan sistem baru yaitu artificial intelligent. 
Pertanian Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan dunia (Febrinastri F, 2018). Hal tersebut membuktikan jika sektor pertanian cukup menjanjikan. Saat ini pemerintah melalui Kementerian pertanian sudah berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian di Indonesia. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan membagikan alsintan ke 33 provinsi di Indonesia. Namun hal tersebut masih belum menyelesaikan persoalan pertanian yang lain. 
Menurut Moeldoko selain lahan pertanian yang menyusut, Indonesia memiliki 5 persoalan pertanian yang lain. Pertama adalah pemilikan lahan petani yang rata-rata hanya 0,2 hektare dan kondisi tanah yang sudah rusak. Kedua, aspek permodalan. Ketiga, lemahnya manajemen petani. Keempat, minimnya penguasaan teknologi dan inovasi. Dan, kelima adalah penanganan pasca panen (Mahadi T, 2020). Selain kelima persoalan tadi, jumlah petani yang kerap turun, dan biaya distribusi pangan tidak bisa dianggap enteng. 
Untuk kepemilikan lahan yang rata-rata hanya 0,2 hektare, petani dapat mencoba indoor farm. Pertanian jenis ini sudah banyak dilakukan di beberapa negara seperti Amerika, Jepang dan Singapura. Selain mengatasi minimnya jumlah lahan dan gagal panen, cara ini dapat meningkatkan minat generasi millennial dan generasi z untuk bertani, karena pertanian ini sarat akan teknologi dan kecanggihan. Tetapi pertanian indoor farm membutuhkan banyak biaya dan menimbulkan perdebatan karena banyak menghasilkan karbon dioksida (Wardhani P, 2017). Selain indoor farm, petani dapat juga menggunakan hidroponik untuk bertani dengan biaya yang lebih terjangkau. 
Untuk persoalan lahan yang kian hari kian menyusut. Lahan pertanian akan jarang menyusut apabila masyarakat berpikir pertanian itu menguntungkan. Contohnya, 1 hektare tanah jika dijual harganya 3 miliar rupiah. Jika ditanami padi, dalam sekali panen menghasilkan keuntungan bersih sebesar 25 juta rupiah, maka dalam satu tahun (3 kali panen) lahan tersebut dapat menghasilkan 75 juta rupiah. Dalam 40 tahun, pemilik lahan dapat menghasilkan 3  rupiah, tanpa kehilangan tanahnya. Dan tentu saja pemilik lahan dapat menghasilkan lebih apabila harga beras naik per tahunnya, serta nilai jual lahan yang akan terus meningkat.
Untuk aspek permodalan, Kementerian Pertanian selalu mendukung upaya tani untuk melakukan tanam dan membantu petani dengan menyediakan Kredit Usaha Rakyat (Kurniawan A, 2020). Selain menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kementerian Pertanian dapat juga memberikan bantuan bibit atau biji tanaman gratis seperti yang sudah dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup baru-baru ini. Untuk manajemen pertanian, di Indonesia petani kerap tidak memperhatikan hal yang satu ini. Padahal Manajemen pertanian yang buruk dapat berdampak pada keuntungan usaha yang tidak seberapa bahkan kerugian. Manajemen dalam pertanian adalah skill petani untuk menyukseskan usahanya (Junita S, 2018). Hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan manajemen pertanian di Indonesia salah satunya dengan memberikan solusi ilmiah permasalahan pertanian  melalui media cetak ataupun media elektronik.
Untuk persoalan penguasaan teknologi dan inovasi, kementerian pertanian dapat membuat ajang perlombaan membuat alat yang berguna yang memudahkan pertanian ke depannya. Selain itu, kementerian pertanian dapat juga melakukan sosialisasi dan pelatihan di lapangan bagaimana cara menggunakan alat pertanian modern. Jika petani di Indonesia sudah menerapkan pertanian berbasis industri 4.0 maka hasil panen akan meningkat, menghemat waktu, dan menghemat biaya. Penguasaan teknologi dan inovasi akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. 
Untuk persoalan penanganan pasca panen,  langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melakukan standardisasi, hasil panen dengan kualitas super dapat dijual dengan harga tinggi, dengan begini semua hasil panen tidak ada yang mubazir. Selanjutnya melakukan pengemasan untuk menjaga hasil panen tetap baik dan menarik pembeli karena kemasan yang menarik. Dalam melakukan penyimpanan perlu memperhatikan sifat hasil panen yang disimpan dan  seberapa lama hasil panen tersebut bertahan. Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah pengangkutan/distribusi, petani dapat memanfaatkan aplikasi online untuk memasarkan produknya, agar harga produk tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang petani jual.
Menjadi petani tidak harus memiliki lahan yang luas, dengan teknologi, lahan yang ada di rumah dapat menghasilkan sayuran atau padi yang cukup untuk kebutuhan di rumah bahkan dapat dijual jika berlebih. Saat ini pertanian di rumah yang dapat dilakukan adalah hidroponik, mungkin bagi sebagian pertanian hidroponik cukup mahal. Maka menanam sayuran di atas pot yang berisi air dan Ikan dapat menjadi alternatif yang menguntungkan, selain bertani sayuran petani juga bertani ikan. Dengan kemudahan pertanian saat ini, yang telah dijabarkan oleh penulis, diharapkan Indonesia memiliki ketahanan pangan yang kuat dan menjadi negara yang mandiri. 
Daftar Pustaka
Febrinastri F (2018). Mentan: Pertanian Indonesia Mampu Penuhi Kebutuhan Pangan Dunia. Dikutip dari https://amp.suara.com/bisnis/2018/10/09/093744/mentan-pertanian-indonesia-mampu-penuhi-kebutuhan-pangan-dunia.   
Junita S (2018). 3 Ciri Petani Indonesia Masih belum Kuasai Manajemen. Dikutip dari https://paktanidigital.com/artikel/ciri-petani-belum-kuasai-manajemen/. 
Kurniawan A (2020). Mentan Yakinkan Petani Mudah Dapatkan KUR dari LKM-A dan Koptan. Dikutip dari https://money.kompas.com/read/2020/07/11/162429326/mentan-yakinkan-petani-mudah-dapatkan-kur-dari-lkm-a-dan-koptan. 
Mahadi T (2020). HKTI: Tantangan pertanian saat ini adalah masalah ketersediaan lahan. Dikutip dari https://industri.kontan.co.id/news/hkti-tantangan-pertanian-saat-ini-adalah-masalah-ketersediaan-lahan. 
Setiawan M (2019). Jumlah petani menurun Kementan kerahkan mesin. Dikutip dari https://www.antaranews.com/berita/828830/jumlah-petani-menurun-kementan-kerahkan-mesin. 
Shofihara I (2020). Mentan: Sektor Pertanian sudah mulai menyambut era 4.0. Dikutip dari https://kilaskementerian.kompas.com/kementan/read/2020/07/05/195616426/mentan-sektor-pertanian-sudah-mulai-menyambut-era-40.
T Mutiawarati (2014). Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. 
Wardhani P (2017). 14 Wujud Pertanian Modern di Masa Depan. Mungkin Kalau Nggak Gini Kita Nggak Bisa Makan. Dikutip dari https://www.hipwee.com/feature/14-wujud-pertanian-modern-di-masa-depan-mungkin-kalau-nggak-gini-kita-nggak-bisa-makan/. 
Worldometerss (2020). World Population: Past, Present, and future. Dikutip dari https://www.worldometers.info/world-population/.

Komentar